Dakoga.tv — Gagasan pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-50 Tahun 2032 di Sumatera Barat tidak lahir dalam ruang hampa. Ia berangkat dari refleksi sejarah panjang Muhammadiyah di Ranah Minang, yang pernah menjadi tuan rumah agenda penting organisasi ini dalam perjalanan dakwah dan penguatan umat di Indonesia.
Salah satu peristiwa bersejarah tersebut adalah pelaksanaan Muhammadiyah melalui Kongres Muhammadiyah ke-19 Tahun 1930 di Bukittinggi. Kongres ini memiliki arti penting dan strategis, karena menjadi kongres pertama Muhammadiyah yang diselenggarakan di luar Pulau Jawa. Momentum tersebut menandai perluasan gerakan dakwah Muhammadiyah sekaligus penguatan eksistensi organisasi di wilayah Sumatera Barat.
Kongres Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi dihadiri oleh berbagai tokoh Muhammadiyah dan Minangkabau, yang menunjukkan tingginya semangat terhadap perjuangan Islam melalui gerakan pembaruan yang diusung Muhammadiyah. Pada masa itu, kongres tersebut menjadi simbol kebangkitan Islam di Sumatera Barat khususnya, dan Indonesia pada umumnya, dengan Muhammadiyah sebagai salah satu motor penggeraknya.
Selain itu, kongres ini juga menandai semakin luasnya jangkauan dakwah Muhammadiyah ke luar Pulau Jawa, dengan Sumatera Barat menjadi salah satu pusat pengembangan gerakan. Hasil kongres menitikberatkan pada penguatan organisasi serta pentingnya pendidikan sebagai kunci utama dalam memajukan umat Islam di Indonesia.
Tidak hanya terinspirasi dari Kongres Muhammadiyah ke-19 Tahun 1930 di Bukittinggi, semangat penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ke-50 Tahun 2032 di Sumatera Barat juga merujuk pada pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-39 Tahun 1975 di Padang. Setelah 45 tahun sejak Kongres ke-19 di Bukittinggi, Muhammadiyah kembali mempercayakan Sumatera Barat sebagai tuan rumah agenda nasional melalui Muktamar ke-39 tersebut.
Pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-39 Tahun 1975 di Kota Padang menunjukkan kemajuan dan pertumbuhan Muhammadiyah yang signifikan, baik dari sisi jumlah anggota, cabang, maupun amal usaha. Muktamar tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi dengan penekanan pada pentingnya persatuan dan kesatuan umat Islam, penguatan dakwah, serta pelayanan kepada masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan.
Hasil dari Muktamar ke-39 tersebut antara lain adalah penguatan struktur organisasi Muhammadiyah, peningkatan kualitas kepemimpinan, serta pengembangan amal usaha Muhammadiyah di sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi umat.
Berangkat dari dua agenda bersejarah Muhammadiyah di Sumatera Barat tersebut, yakni Kongres dan Muktamar, maka pada Musyawarah Pimpinan Wilayah (Musypimwil) Muhammadiyah Sumatera Barat yang dilaksanakan pada 7–8 Februari 2026, salah satu keputusan penting yang dihasilkan adalah mengusulkan kepada Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Medan agar menetapkan Muhammadiyah Sumatera Barat sebagai tuan rumah Muktamar Muhammadiyah ke-50 Tahun 2032.
Musypimwil tersebut juga membahas serta menetapkan sejumlah program strategis, di antaranya penandatanganan nota kesepahaman dengan BPJS Ketenagakerjaan, Gerakan Satu Miliar untuk pembangunan Sekolah Dasar di Mentawai, serta kerja sama dengan pelaku UMKM dan program MBG. Hal ini menunjukkan komitmen Muhammadiyah Sumatera Barat dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat perannya dalam bidang pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan ekonomi umat.
Dengan latar belakang historis yang kuat serta kesiapan organisasi yang terus berkembang, Sumatera Barat dinilai memiliki kapasitas dan legitimasi untuk kembali menjadi tuan rumah agenda nasional Muhammadiyah. Harapannya, Muktamar Muhammadiyah ke-50 Tahun 2032 dapat menjadi momentum strategis dalam memperkuat peran Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang berkemajuan di tingkat nasional maupun global.
Demikian, sukses dan salam.
Advokat Ki Jal Atri Tanjung.
